Memakaikan diapers buat anak itu Praktis, tapi….

Sebelumnya mari kita baca “curhatan 2 ibu ini”

“krn tdk ada waktu buat cuci2 dll saya putuskan siang malam pake diaper, pengeluaran jd lumayan besar, efek sampingnya sih tdk gitu saya rasakan selain waktu saat penyapihan diapernya saat dia umur 3 tahun dia susah BaB wkt saya latih untuk bab ke toilet” -bunda nur

“Kalo menurut pengalaman saya yang datang bulan dan menggunakan pembalut 24 jam (ganti pembalut setiap 2 jam) saja masih sering iritasi kulit, apalagi buat kulit debay. Memang buat ortunya jadi lebih simple dan gak repot ganti, tapi yang perlu diperhatikan adalah kesehatan anak kita, dulu waktu mommy masih baby juga tidak mengenakan popok sekali pakai kan? Ibunda kita menjaga 24 jam tanpa mengeluh, ayo para mommy, kita ikuti jejak mulia beliau untuk lebih menyayangi anak kita dan yang pasti jadi ramah lingkungan. Faktanya di negara maju pun, penggunaan popok sekali pakai sudah tidak disarankan dengan alasan kesehatan bayi dan lingkungan. ” –bunda putri

Apa benar demikian???

Memakaiakan diapers itu gak salah kok. Praktis buat kita sebagai para Bunda, hanya saja perlu diatur pemakaiannya.

kenapa? seperti curhatan diatas, selain biar gak terlalu boros, juga demi kesehatan buah hati kita ya bund. Kulit bayi bisa mengalami masalah kulit kemerahan jika bayi memakai diapers terlalu sering. Dan pipis atau pup saat anak tidur dan kita tidak cepat saat menggantikan diapers, apa yang terjadi?. Diapers yang sudah menampung air seni bayi terlalu lama ternyata bisa terasa basah dan jika tidak segera dilepas, maka kulit bayi bisa terinfeksi dengan jamur.

Maka, penggunaan diapers saat aktivitas tidaklah mengapa karena kita bisa mengontrol saat anak pipis atau pup. Tapi ketika tidur? hendaknya kita jangan memakaiakannya. Karena jika terlalu lama kulit Debay nempel sama urine atau pup… gak sehat bund. kasihan…

Efek lainnya adalah ketika anak terbiasa tidur pake diapers, maka dia akan merasa nyaman dengan ompol/ pupnya. akibatnya? Nanti ketika diajarkan pipis atau pup di toilet (toilet training) akan menjadi lebih lama dari anak yang ketika tidur tidak memakai diapers.

Ada beberapa langkah jika Bunda ingin melepas diapers saat anak tidur.

  1. Pastikan sebelum tidur anak diajak ke toilet untuk pipis/ pup. kalo orang jawa bilang ditatur dulu. ini akan mengurangi kemungkinan anak ngompol.
  2. Jauhkan alat elektronik dari kasur, misal hp. selain radiasi kalo kena ompol anak kan bisa rusak
  3. Jika pakai AC, jangan terlalu dingin. 27 derajat sudah cukup dingin. karena udara dingin membuat anak lebih sering pipis.
  4. Jaga agar kasur tidak langsung menempel dilantai, kasih alas berupa triplek atau lainnya.
  5. pakaikan alas pada anak. Seperti perlak atau sprei waterproof agar Kasur tetap kering. Tapi berdasarkan pengalaman saya, ketiga anak saya lebih nyaman pake sprei waterproof. tapi tidak smberang sprei waterproof karena ada yang bahannya panas, debay malah sering keringetan.

Jika bunda cari sprei waterproof, bunda bisa dapatkan disini. klik disini

 

sekian sharingnya, semoga bermanfaat…

 

Memakaikan diapers buat anak itu Praktis, tapi….

Sebelumnya mari kita baca “curhatan” 2 ibu ini

“krn tdk ada waktu buat cuci2 dll saya putuskan siang malam pake diaper, pengeluaran jd lumayan besar, efek sampingnya sih tdk gitu saya rasakan selain waktu saat penyapihan diapernya saat dia umur 3 tahun dia susah BaB wkt saya latih untuk bab ke toilet” -bunda nur

“Kalo menurut pengalaman saya yang datang bulan dan menggunakan pembalut 24 jam (ganti pembalut setiap 2 jam) saja masih sering iritasi kulit, apalagi buat kulit debay. Memang buat ortunya jadi lebih simple dan gak repot ganti, tapi yang perlu diperhatikan adalah kesehatan anak kita, dulu waktu mommy masih baby juga tidak mengenakan popok sekali pakai kan? Ibunda kita menjaga 24 jam tanpa mengeluh, ayo para mommy, kita ikuti jejak mulia beliau untuk lebih menyayangi anak kita dan yang pasti jadi ramah lingkungan. Faktanya di negara maju pun, penggunaan popok sekali pakai sudah tidak disarankan dengan alasan kesehatan bayi dan lingkungan. ” –bunda putri

Apa benar demikian???

Memakaiakan diapers itu gak salah kok. Praktis buat kita sebagai para Bunda, hanya saja perlu diatur pemakaiannya.

kenapa? seperti curhatan diatas, selain biar gak terlalu boros, juga demi kesehatan buah hati kita ya bund. Kulit bayi bisa mengalami masalah kulit kemerahan jika bayi memakai diapers terlalu sering. Dan pipis atau pup saat anak tidur dan kita tidak cepat saat menggantikan diapers, apa yang terjadi?. Diapers yang sudah menampung air seni bayi terlalu lama ternyata bisa terasa basah dan jika tidak segera dilepas, maka kulit bayi bisa terinfeksi dengan jamur.

Maka, penggunaan diapers saat aktivitas tidaklah mengapa karena kita bisa mengontrol saat anak pipis atau pup. Tapi ketika tidur? hendaknya kita jangan memakaiakannya. Karena jika terlalu lama kulit Debay nempel sama urine atau pup… gak sehat bund. kasihan…

Efek lainnya adalah ketika anak terbiasa tidur pake diapers, maka dia akan merasa nyaman dengan ompol/ pupnya. akibatnya? Nanti ketika diajarkan pipis atau pup di toilet (toilet training) akan menjadi lebih lama dari anak yang ketika tidur tidak memakai diapers.

Ada beberapa langkah jika Bunda ingin melepas diapers saat anak tidur.

  1. Pastikan sebelum tidur anak diajak ke toilet untuk pipis/ pup. kalo orang jawa bilang ditatur dulu. ini akan mengurangi kemungkinan anak ngompol.
  2. Jauhkan alat elektronik dari kasur, misal hp. selain radiasi kalo kena ompol anak kan bisa rusak
  3. Jika pakai AC, jangan terlalu dingin. 27 derajat sudah cukup dingin. karena udara dingin membuat anak lebih sering pipis.
  4. Jaga agar kasur tidak langsung menempel dilantai, kasih alas berupa triplek atau lainnya.
  5. pakaikan alas pada anak. Seperti perlak atau sprei waterproof agar Kasur tetap kering. Tapi berdasarkan pengalaman saya, ketiga anak saya lebih nyaman pake sprei waterproof. tapi tidak smberang sprei waterproof karena ada yang bahannya panas, debay malah sering keringetan.

Jika bunda cari sprei waterproof, bunda bisa dapatkan disini. klik disini

 

sekian sharingnya, semoga bermanfaat…

 

Hati-Hati, Inilah Bahayanya Membedong Bayi

Namun ternyata membedong bayi turut bisa mengundang risiko medis, seperti bayi merasa kepanasan, displasia panggul, infeksi pernapasan, dan bahkan sindrom kematian mendadak pada bayi (Sudden Death Infant Syndrome – SIDS). Agar terhindar dari risiko-risiko ini, orang tua maupun orang yang merawat bayi dianjurkan untuk mengetahui kondisi seperti apa yang membolehkan atau justru membahayakan dalam membedong bayi serta bagaimana teknik membedong yang aman.

Hati-hati, Inilah Bahayanya Membedong Bayi - Alodokter

Membedong dapat menjadi cara yang bermanfaat untuk menenangkan bayi ketika mereka rewel dan sulit tidur. Teknik membungkus bayi seperti ini menjadikan si Kecil dapat merasa seperti di dalam rahim, yaitu lingkungan yang familiar untuknya. Selain itu, bedong juga dapat mengurangi refleks kaget pada bayi yang bisa membangunkan tidurnya. Berkat membedong, bayi bisa tidur nyaman tanpa gangguan, sementara orang tua juga dapat memiliki waktu istirahat.

Namun hati-hati karena membedong bayi terlalu ketat atau menggunakan kain lampin yang membuat gerah, serta tidak memerhatikan kondisi bayi ketika dibedong justru dapat mendatangkan bahaya. Misalnya seperti berikut ini.

Displasia panggul

Pastikan kamu tidak membedong bayi terlalu erat karena dikhawatirkan dapat berdampak kepada perkembangan dan pergerakannya di kemudian hari. Ketika membedong buah hati, berikan ruang gerak pada kakinya agar panggulnya bisa bergerak bebas, seperti menggerakkan kaki naik dan turun.

Jika bedong terlalu ketat dengan kaki yang dirapatkan dan diluruskan, ada kemungkinan bayi mengalami masalah dengan panggul, seperti kondisi displasia panggul, yaitu ketika tulang-tulang sendi panggul tidak sejajar satu sama lain. Bila hal ini sampai terjadi, sendi panggul dapat sulit untuk berfungsi dengan baik. Ini karena ketika di dalam rahim, kaki bayi berada dalam posisi bengkok dan menyilang satu sama lain sehingga bila Bunda memaksanya untuk lurus secara ketat, maka sendi-sendinya dapat mengalami dislokasi dan akhirnya merusak tulang rawan.

Infeksi pernapasan

Membedong bayi terlalu ketat juga bisa membuat si Kecil berisiko kepanasan dan mengalami infeksi pernapasan. Pastikan bayimu tidak merasa panas di malam hari. Selain itu, pilih bedong dari kain katun tipis agar bayi tidak gerah.

Sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS)

SIDS adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bayi yang berusia di bawah satu tahun dan terlihat sehat, tiba-tiba meninggal dunia tanpa diketahui penyebabnya. SIDS sering terjadi saat bayi sedang tidur. Risiko SIDS tampak meningkat pada bayi yang dibedong lalu ditempatkan pada posisi telungkup atau menyamping, menurut sebuah penelitian. SIDS juga bisa terjadi bila bedong bayi terlalu longgar sehingga kain berisiko bergeser dan menutupi mulut serta hidung bayi.

Perhatikan Kondisi Bayi yang Dibedong

Sebagian bayi tidak menikmati sensasi tubuh terbungkus. Si Kecil terkadang bisa memberi tahu ketika dia merasa tidak ingin dibedong dengan isyarat berikut:

  • Menunjukkan tanda-tanda kepanasan. Sering-seringlah untuk memeriksa suhu tubuhnya untuk memastikan dia nyaman. Idealnya, bedong bertujuan untuk membantu bayi merasa aman dan nyaman, bukan untuk membuatnya kepanasan.
  • Memberontak untuk lepas dari bedong terus menerus dari hari ke hari.
  • Bayi sudah mulai bisa berguling, bahkan telungkup saat tidur. Bila terus dibedong, bayi bisa kesulitan bernapas saat dia berguling.
  • Bayi sudah mulai besar dan bergerak lebih banyak saat tidur. Bedong justru membuatnya tidak nyaman dan cenderung untuk bangun. Bunda dianjurkan untuk berhenti membedong bayi saat usianya memasuki dua bulan.
  • Saat menyusui, dianjurkan untuk melepas bedong bayi sehingga tangannya bisa bebas untuk menyentuh dan mengeksplorasi.

Tips Membedong yang Aman

Demi menghindari efek berbahaya dari bedong, cobalah untuk mengikuti tips-tips berikut.

  • Bentangkan kain lampin, lalu lipat sedikit pada salah satu sudutnya. Letakkan bayi di atas kain lampin dengan posisi kepalanya di tepi sudut yang dilipat. Sambil memegang bayimu, bawalah salah satu sisi kain ke tubuhnya, boleh sisi kanan atau kiri terlebih dahulu, lalu selipkan di bawah tubuhnya.
  • Tutupi kakinya dengan melipat sisi bawah kain lampin ke atas. Pastikan ada ruang untuk kakinya.
  • Bawalah sisi lain kain ke tubuh bayi lalu selipkan hingga menyisakan leher dan kepalanya yang tidak terbungkus kain.
  • Setelah bayi dibedong, pastikan untuk menerapkan kebiasaan tidur aman yang mencakup meletakkan bayi dalam posisi telentang. Selain itu, hindari penggunaan bantal hingga usia bayi mencapai dua tahun.

Sebagian bayi ada yang lebih menyukai lengannya terbebas dari bedong. Jika bayimu lebih menyukai seperti ini, cukup ikuti petunjuk membedong seperti di atas, tapi selipkan tiap sudut selimut di bawah ketiaknya, bukan di atas bahunya agar tangannya terbebas dari lampin.

5 Kesalahan Orangtua Saat Melatih Anak Toilet Training

Ketika anak memasuki usia dua tahun, orangtua mulai mengajarkan mereka untuk buang air kecil atau besar di toilet. Saat proses belajar ini berlangsung, jangan sampai Anda melakukan kesalahan-kesalahan berikut yang justru bisa membuat anak semakin malas untuk toilet training.

Toilet training, begitu istilah populer untuk melatih si kecil buang air kecil atau besar di kamar mandi. Beberapa anak menunjukkan keinginannya untuk belajar BAB dan BAK di kamar mandi saat usia dua tahun. Ada juga anak yang belum mau melakukannya meski usia mereka sudah 2,5 tahun atau lebih.

Kapan waktu yang tepat untuk mengajari anak toilet training? Sebenarnya orangtua tidak perlu buru-buru melakukannya, kalau anak memang terlihat belum siap. Wolipop pernah menuliskan di sini, hal-hal apa saja yang perlu diketahui orangtua untuk melihat kesiapan anak.

Jika dari pengamatan Anda anak sudah siap melakukan toilet training, hindari beberapa kesalahan yang umum dilakukan orangtua berikut ini, seperti dipaparkan Baby Center:

1. Terlalu Dini
Sebaiknya jangan mengajari si kecil melakukan toilet training jika memang dia belum siap. Kalau anak diajari terlalu dini, kemungkinan proses belajar itu akan selesai lebih lama. Seperti sudah dijelaskan di atas, tidak ada yang tahu di usia berapa tepatnya anak mulai diajari BAB dan BAK di toilet, semuanya tergantung dari perkembangan anak. Namun sebagian besar balita memiliki kemampuan untuk mempelajari hal tersebut di usia 18 dan 24 bulan. Ada juga beberapa balita yang belum siap sampai usianya tiga atau empat tahun. Jadi sebenarnya orangtualah yang tahu kapan waktu paling tepat mengajari anak toilet training dengan mengamati perkembangan fisik, kognitif dan perilakunya.

Ketika proses belajar toilet training ini sudah dimulai biasanya butuh waktu tiga bulan atau lebih lama. Oleh karena itu Anda harus banyak bersabar dan tetap mendukung anak melaluinya. Kalau ternyata proses belajar ini tidak sukses setelah beberapa minggu dijalankan, bisa jadi anak memang belum siap. Tunggu beberapa minggu dan coba lagi dari awal.

2. Memulai di Waktu yang Salah
Bukan ide yang baik jika Anda mulai mengajari anak untuk toilet training ketika ternyata dia akan memiliki adik dalam waktu dekat. Waktu lainnya yang tidak tepat misalnya ketika anak berganti pengasuh atau masa-masa peralihan lain dalam hidupnya.

Yang Anda harus selalu ingat, balita sangat perlu rutinitas agar dia bisa memahami apa yang sedang diajarkan padanya. Sehingga perubahan apapun yang tidak sejalan dengan kesehariannya atau rutinitasnya itu bisa jadi kemunduran untuknya. Jadi sebaiknya tunggu hingga situasi memungkinkan, misalnya ketika si bungsu sudah lahir atau baby sitter baru sudah datang, baru mulai mengajarinya toilet training.

3. Membuatnya Menjadi Beban
Ketika anak sudah menunjukkan ketertarikannya untuk buang air kecil atau besar di kamar mandi, itu tentu sangat baik. Namun sebaiknya Anda jangan terlalu mendorong atau menekannya untuk terus melakukan langkah tersebut. Hindari juga memaksa anak untuk belajar dengan cepat. Kalau anak tertekan, dia bisa jadi sulit BAB atau mengalami masalah lainnya.

Berikan anak waktu dan biarkan dia menjalani proses belajar tersebut sesuai kemampuannya. Anak akan belajar setahap demi setahap, misalnya awalnya dia sudah mau menunjukkan ekspresi berbeda ketika ingin BAB atau BAK, tahap berikutnya, anak mengungkapkan keinginannya, tahap lanjutan si kecil mengajak Anda ke kamar mandi, dan seterusnya.

4. Mengikuti Aturan Orang Lain
Melatih anak untuk BAB atau BAK di toilet butuh kesabaran dan waktu. Setiap minggunya juga bisa semakin sulit apalagi jika Anda mendengarkan omongan orang lain seperti ibu Anda, mertua, atau orang lain yang lebih senior dan merasa lebih tahu. Ketika mereka menasihati Anda agar mempercepat proses belajar toilet training atau memberitahukan agar anak segera diajari BAB atau BAK di kamar mandi, sebaiknya jangan terpengaruh. Seperti sudah dikatakan sebelumnya, jika ternyata anak belum siap, proses toilet training ini malah bisa berlangsung lebih lama.

5. Menghukum Anak
Menghukum atau marah pada anak ketika dia tidak benar-benar mau toilet training justru tak akan menyelesaikan masalah dan bisa membuatnya belajar. Pahamilah kalau penolakan anak ini wajar dan jika Anda memberi hukuman hanya akan membuatnya semakin malas belajar BAB atau BAK di toilet. Anak malah akan takut jika dia berbuat kesalahan itu akan membuat Anda marah. Berikan respon dengan bijak dan tenang ketika anak misalnya lupa ke kamar mandi untuk BAK.

pesan sprei waterproof? klik gambar dibawah ini